Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by FlamingText.com

Rabu, 16 September 2015

Bad Idea T_T

How are you today???
Still keep writing???
Good luck!!!
Ahh, once more I say it to them. Already two weeks since I announce about this great idea. Yeah, I think. I think it’s a great idea. But,  actually I’m very confident to say it’s a great idea. Next time, I’ll know that actually it’s a bad idea.
Two weeks ago, I looked some pict from my friend’s IG about our generation. She wrote on it that she is  miss us because she has just read the story from my blog. From that pict and the caption I directly remember with my idea which I ever think at last time. And the idea is making a book together with my generation about our experience at Islamic boarding school. It’s heard really interesting, isn’t? Yeah, it’s very interesting because we are one generation have a chance to write together about our last experience and we can motivate the other people to entering Islamic boarding school as like what we have done at last time. And after we write we’re able to sell our book to every people in this world, and BOOOM … our book will be a best seller book. Yes, that is my imagination when I announce my idea for the first time to all my friends one generation. But in fact it’s not as easy as what I imagine before.
***

To be continued insya Allah

Minggu, 28 Juni 2015

Mari seperti dulu

Masih ingatkah kawan, semangat kita dulu? Ya, semangat kita ketika mengikuti lumba-lumba, eh, lomba-lomba maksud gue. Yah, yah, yah, walaupun modus ikut lomba adalah supaya bisa keluar ma’had, tapi gue masih ingat, kalau qt g pernah mikir kalah. Walaupun menang juga nggak kepikiran. Yang qt pikirin adalah gimana caranya qt ikut lomba supaya keluar dr ma’had. Seingat gue, waktu itu semangat kita udah menembus 100%, g ada kata menyerah, sebelum bertempur di medan perang. 

Hei. Gue pengen kayak begitu lagi, kawan. Dmana gue g pandai menyerah. Dmana gue g pandai putus asa. Padahal motivasi gue yang sekarang lebih besar dibanding sekedar keluar ma’had. Sekarang udah harus keluar kalimantan. Tapi semangat keluar ma’had tak sebanding dengan semangat keluar kalimantan. Lebih kecil. Atau, gara2 gue terlena, ya, kawan. Terlena karena udah masuk pembinaan. Padahal belum menjamin juga sampai hari H gue bisa ikut. Arrgh,,, gue pengen nyari semangat itu, kawan. Dmana yak nyarinya. D ma’had? *Eh?

Minggu, 26 April 2015

Gue dan Alva Edison

Gue dan Alva edison punya pengalaman yang sama.
Bayangin klo Alva nggak move on di kegagalan yang ke-999 kalinya, mungkin nggak bakal ada yang namanya lampu di dunia ini.
Bayangin klo gue nggak move on gara2 kejadian sore itu, mungkin nama gue nggak pernah terpampang di papan itu.
Hei, ternyata yang diliat itu bukan seberapa besar kegagalan yang pernah kita terima, tapi seberapa besar semangat move on dari kegagalan kita itu.
Ayolah kawan, Move on sajalah, siapa tau, move on kali ini adalah pintu terakhir menuju suksesmu!!!

Happy Moving On smile emotikon
*englishx bnr g sih 0_o

Selasa, 14 April 2015

Allah is Cool

             

           One day, I have a commitment for praying tahajjud pray everyday. and you know what? there is something happen in my self that never happen before I take that commitment. After I take that commitment, I'm always wake up at three or three a half a'clock, ALWAYS. Whether I pray tahajjud or not, I'm always wake at that a'clock. It's amazing, isn't it? and I believe, Allah has sent his angle to me for waking me up everyday to pray tahajjud pray. Ahh, I'm really happy, and I feel that
 ALLAH IS COOL ...

Rabu, 08 April 2015

Writer's Doubt

have u ever felt like what i fell? i still doubt whther this felling is only come to me? or also to the other writers in this world. okay, now? i will effort to explain what is my feeling.

doubt. writerns doubt. that is what i feel. exactly? as a writer or maybe it will suitable we call by people who wanna be a writer

continued

Selasa, 07 April 2015

Komitmen #semoga_diistiqomahkan

Bismillahirrahmanirrahim...

mulai hari ini gue calon penulis best seller nasional berkomitmen apapun yang terjadi setiap hari gue bakalan nulis sedikit dikitnya  satu paragraf perhari. udah itu ajjah



semoga Allah mengistiqomahkan segala komitmen gue.
amin

Rabu, 18 Maret 2015

Satu Mimpi Diwujudkan


Bermimpilah...
Jangan sekedar berangan-angan...
Bermimpilah...
Untuk kemudian diwujudkan...


*Foto ini diambil pas gue lagi uyuh2nya pulang dari kampus, tiba2 adink gue nunjuk satu paket dari pak pos, dan seketika uyuh gue pun hilang. Jujur, waktu itu gue langsung jingkrak2 nggak tau arah, ditambah senyum2 nggak jelas. Percayalah! Gue jujur!

Hello semua!!!
Masih ingat gue kan, yah? Hoho... Kali aja ada yang amnesia, soalnya udah lama banget nggak nulis di blog ini. Nih2 blognya udah lumutan, aish,,, bersihin dulu deh, pake vacum cleaner,,,

Okey, kali ini gue mau cerita about satu mimpi yang sudah Allah wujudkan.
Be a writer...
Alhamdulillah, segala puji memang benar2 harus diperuntukkan hanya kepada Allah. Tempat penggantung semua harapan, harapan yang bukan sekedar angan2. Tapi harapan yang pasti akan diwujudkan.

Dari sekian tahun lika-liku gue pengen jadi penulis, akhirnya hari ini 18 Maret 2015, satu buku yang didalamnya tertera nama gue sudah ada dalam genggaman. “Saksikan Perjalanan Kami Menuju Impian” judul bukunya. Adalah buku antologi yang ditulis keroyokan oleh 71 writers yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk gue.

Gue seneng banget, dan tentunya bersyukur banget sama Allah SWT yang udah ngabulin mimpi gue pengen jadi writer, sesuai dengan apa yang tertera di buku ini. Sebenarnya sih ada 6 impian yang udah gue tulis di buku antologi ini, dan satu sudah diwujudkan, yaitu “menjadi seorang penulis”. Penasaran kan, apa 5 impian gue yang lain yang udah gue tulis di buku ini? Udaaaah... beli aja bukunya!!! Bisa beli di penerbit zukzez express via online, atau datang langsung ke penerbitnya di Banjarbaru #eh_kok_gue_jadi_promosi_gini_?

Mmmh, walaupun ini cuma buku antologi dan bukan buku gue pribadi (maksudnya semua isi buku gue yang nulis), gue bersyukur banget. Menurut gue, ini adalah langkah awal menuju writer beneran suatu saat nanti, yang satu buku tulisan gue semuanya. Doain aja ya, guys, biar suatu saat nanti gue bisa punya buku sendiri, dan bisa jadi best seller, aamiin. 

Nih, gue lampirin profil penulis di bagian belakangnya, biar loe makin penasaran, jiahaha,,, :v
Profil gue, he2
Cover bukunya coyyyy...

Satu lagi, semoga tulisan ini bukan ajang buat riya apalagi sombong gara2 gue udah jadi penulis, tapi bisa jadi inspirasi buat temen2 semua, kalo mimpi itu perlu diwujudkan, dan Allah lah Maha Pewujud Mimpi itu, So, kalo bermimpi jangan lupa bedoa, klo udah terwujud jangan lupa bessyukur. Itu!!! *gaya om Mario Teguh 


Rabu, 25 Februari 2015

Ketemu Asma Nadia

Rabu, 25 Februari 2015

Jika Allah menghendaki segalanya terjadi,
Waktu, tempat, dan kronologinya pun tak ada yang tau,
Semua berjalan sesuai kehendaknya,
Dengan sebaik-baik alur cerita.



Hello, guys!!!

Let me tell my story. This story is about my unforgettable moment when I was in Pontianak, West Kalimantan. Especially unforgettable moment in writing experience. Ok, now let me tell this story by Indonesian. Check this out!!!

Satu lagi pengalaman yang great bingit bagi gue, khususnya di dunia kepenulisan. Tepatnya di Pontianak, Sabtu, 21 Februari 2015. Waktu itu gue berada di Pontianak gara-gara terjerumus dalam dunia dakwah yaitu acara Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional yang diselenggarakan pada tanggal 20-22 Februari 2015. Nah, kebetulan banget hari sabtu itu ada seminar umum dengan tema “Be a better muslim family” dimana salah satu pematerinya adalah Penulis masyhuroh, Asma Nadia.

Rasa nggak percaya bisa ketemu sama bunda Asma Nadia di acara ini. Bisa beli bukunya, minta tanda tangannya, dan juga dapat kesempatan foto bareng sama Bunda Asma. Setelah beberapa hari sebelumnya gue sama family gue yakni ; abah, mama, dan isah baru aja ngeliat bunda Asma Nadia di TV One. Subhanallah banget, Allah mempertemukan gue dengan penulis seterkenal Asma Nadia Menurut gue, ini bukanlah sebuah kebetulan, tapi ada rencana yang Allah tuliskan di Lauh Mahfuz sana.

Jadi kronologi cerita pertemuan gue dan Bunda Asma Nadia tidak sependek yang kita bayangkan, yang tiba2 ketemu trus foto bareng. Tapi ada alur2 cerita yang bakalan gue kupas abis di sini, sampe akhirnya gue kejepret sama Bunda Asma Nadia.

Awalnya sebelum berangkat ke Pontianak buat ngikutin acara FSLDKN XVII ini, gue udah pernah dengar kedatangan bunda Asma dan juga Oki Setiana Dewi. Tapi yang ada di otak gue waktu itu adalah Oki nya bukan bunda Asma nya. Nah, pas udah nyampe di Pontianak, tiba2 ada spanduk depan kampus yang memampangkan wajah bunda Asma. Pas disitu gue baru sadar.

“Hei, ada Asma Nadia!!!” ucap gue panik waktu di travel.

Entah kenapa waktu itu gue jadi panik sendiri. Tentunya dengan ekspresi worry abis plus2 muha kurisaan kada sing mandian dari kalteng ke kalbar. Oh, iya, gue belum bilang kenapa gue bisa jadi sepanik itu. Jadi gue panik gara2 gue nggak ada bawa satupun buku nya Asma Nadia. Pas ngeliat mukanya bunda Asma di spanduk gue langsung terbesit buku Assalaamu’alaikum Beijing yang tersusun rapi di rumah gue yang baru aja gue beli beberapa bulan yang lalu dan juga udah jadi film layar lebar di Indonesia. Di travel gue langsung menghayal2 bisa foto sama Bunda Asma dengan buku Assalaamualaikum Beijing yang gue punya. Tap rasanya semua hayalan gue ilang pas inget kalo buku itu ketinggalan. Gue Cuma bisa tawakkal aja.

Then, pas hari H, yaitu tanggal 21 Februari 2015, sehabis mengikuti seminar pendikar atau pendidikan karakter, gue langsung ngajak Siti, Laili, sama Aisyah buat nyari bukunya bunda Asma di bazar. Gara-garanya bunda Asma bakalan ngisi seminar pas jam 13.00 atau abis Zuhur. Kita2pun kujuk2 di padang bazar. Pasnya udah di bazar, langsung ke tempat penjualan buku. Tapi ternyata nggak ada satupun bukunya Asma Nadia di tumpukan penjualan buku itu. Lalulah gue pasrah, kalo emang bukan takdir gue bisa foto bareng sama penulis terkenal, gue ikhlas kok kalo suatu saat nanti gue yang jadi penulis terkenalnya dan semua orang pengen foto bareng ama gue. Eh?

Di tengah2 kepasrahan nggak bakal bisa foto bareng sama penulis terkenal, gue isi detik-detik seminarnya Asma Nadia dengan jalan2 di bazar bersama Laili, Siti dan Aisyah. Gara2 nggak dapat bukunya Asma, jadilah kita2 ngeliatin bazarnya rabbani yang diskon 10%, trus abis itu beli es doger 5000an. Akhirnya, balik lagi ke auditorium buat ngambil makan siang dan menikmati es doger ala ponti. Tentunya dengan rasa kecewa nggak nemu bukunya bunda Asma.

Lalulah kita duduk di auditorium, dengan sekotak nasi dan segelas es doger. Tiba2 ada nuli yang manggil gue dari belakang.

“Wiwit!!!” teriaknya.

Dan gue menoleh. Seketika terbesit bukunya bunda Asma di wajah Nuli.

“Hemmh, gue rasa Nuli punya buku bunda Asma,” gumam gue dalam hati.

Gue pun langsung menuju Nuli dan nanyain punya bukunya bunda Asma ato nggak, dan ternyata jawabannya adalah nggak. Terus gue tanyain juga apakah nuli ada liat orang yang jualan bukunya Asma nadia, dan ternyata lagi-lagi jawabannya nuli dalah “nggak”. Hufht, baru aja gue dikasih harapan baru dengan munculnya wajah nuli di gedung seminar ini ternyata lagi2 gue dihadapkan dalam kepasrahan.

Pas gue udah pasrah2nya, tiba2 ada ukhty2 yang lewat sambil ngetenteng2 bukunya bunda Asma yang masih pake plastik.

“Hei!!!” ucap gue terbesit sesuatu,” kalo dia punya buku yang masih ada plastiknya, berarti....” gue langsung berasa dapat hidayah. Kayaknya itu buku emang ada dijual di sini. Langsung lah gue cegat itu ukhty2 yang bawa2 buku Asma Nadia yang masih ada plastiknya.

“Ukhty!!!” cegat gue.

“Iya,” ujar ukhtynya menoleh.

“Itu buku Asma Nadia belinya dimana?”

“Itu dibelakang, ukh...” ujarnya.

Langsunglah tatapan tajam gue menuju belakang tempat duduk peserta. Gue liat ada banyak orang di belakang. Lalulah gue ngajakin Siti, Laili, dan Aisyah buat beli bukunya bunda Asma.

Sesampainya di belakang gue berasa amazing banget, di hadapan mata gue udah ada yang namanya bunda Asma Nadia, penulis terkenal yang udah berkunjung ke 59 Negara dan 200an kota. Penulis yang baru aja gue sekeluarga nonton di TV one. Penulis buku Assalaamu’alaikum Beijing yang bukunya dengan ceroboh gue tinggal di Palangka Raya sana. Sekali lagi gue berasa amazing. Then, untungnya gue nggak cuma ngeliat wajah bunda Asma nya aja, tapi juga buku2nya. Jadilah gue beli buku pesantren impian dengan harga 52.000 rupiah. Kembaliannya 3000 dong pastinya yah.

Habis itu gue langsung ke kerumunan bunda Asma. Banyak yang mau foto bareng, termasuk gue. Guepun berjejal2 dengan para akhwat yang juga pengen foto bareng sama bunda Asma. Pas udah hampir punya kesempatan foto sama bunda Asma Nadia, tiba2 bunda Asma nya negur gue.

“Itu plastiknya dibuka dulu biar langsung ditanda tanganin...” ujar beliau.

Nyesssss..... rasanya hati gue tuh langsung meleleh. Bayangin aja , gue disuruh buka plastik buku, sama bunda Asma Nadia. Huahhh keren banget. Langsung dah tuh gue buka plastiknya, dan minta tanda tangnnya, n then foto bareng. Senengnya......

Jadi begitu deh kronologi pertemuan gue sama bunda Asma. Sebenarnya sih gue sampe dua kali foto sama bunda Asma, ba’da zuhur dan b’ada ashar. Aji mumpung bray. Klo ada kesempatan kenapa nggak diambil kan, iya toh???

Gue berharap, dengan dipertemukannya gue sama penulis seterkenal Asma Nadia ini, sedikit banyak motivasi kepenulisan gue bisa meningkat. Dan syukur2 kalo bakatnya bunda Asma bisa ketular ke gue. Ha2, AMIN!!! Ya Robbal Alamin




Sabtu, 14 Februari 2015

Kehidupan bak sebuah roda


Entah apa yang gue rasain hari ini. Baru aja kemaren siang gue feeling really happy karena udah resmi jadi penyumbang tulisan di blognya DHPi. Ternyata kemaren malam juga gue jadi feeling really gloomy gara-gara tulisan gue nggak lolos di salah satu event menulis. Hampa. Hampa rasanya hati dan pikiran gue. Yang gue sadari saat ini hanyalah, bahwa kehidupan gue bener2 kayak sebuah roda, baru aja sedetik berada di atas, sedetik kemudian udah berada di bawah lagi. Begitu terus roda berputar. Atas, bawah, atas, etc.

Tapi di sisi lain, gue juga sadar kalo ternyata sebuah roda yang kadang berada di atas dan juga kadang berada di bawah, suatu saat akan sampai pada satu tujuan. Ya, satu tujuan. Begitu pula yang masih gue yakini mengenai kehiduapan gue ini, untuk menjadi seorang penulis mungkin nggak selamanya berada di atas, tapi harus ngerasain juga gimana rasanya berada di bawah. Biar roda terus berputar dan sampai satu tujuan. Be a writer.